Tampilkan postingan dengan label magic of islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label magic of islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juni 2012

Doa Agar Diberi Ilmu Yang Bermanfaat

Posted by Setyo Wibowo On 17.45 No comments
اَللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِـمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا
“Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku atas apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah kepadaku apa yang bermanfaat bagiku, serta tambahkanlah ilmu kepadaku.”
HR. At-Tirmidzi no. 3599, Ibnu Majah no. 251 dan 3833, Shahiih at-Tirmidzi III/185 no. 2845, Shahiih Ibni Majah 1/47 no. 203 dari Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.”
HR. Ibnu Majah no. 925, lihat juga Shahiih Ibni Majah 1/152 no. 753
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمًا لاَ يَنْفَعُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
HR. Ibnu Majah no. 3843 dari Jabir رضي الله عنه. Lihat juga Shahiih Sunan Ibni Majah 11/327 no. 3100 dan lafazhnya:
سَلُوا اللهَ عِلْمًا نَافِعًا، وَتَعَوَّ ذُوْا بِاللهِ مِنْ عِلْمًا لاَ يَنْفَعُ
“Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
Dikutip dari: Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih, oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Jumat, 08 Juni 2012

Diam Yang Menyelamatkan

Posted by Setyo Wibowo On 19.49 No comments

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diam maka dia akan selamat.” (HR. Ahmad [6481] sanadnya disahihkan Syaikh Ahmad Syakir, lihat al-Musnad [6/36] dan disahihkan pula oleh Syaikh Abdullah bin Yusuf al-Judai’ dalam ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 21-22 Bab Najatul Insan bi ash-Shamti wa Hifzhi al-Lisan)

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim yang baik adalah yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang yang benar-benar berhijrah adalah yang meninggalkan segala perkara yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman [10])a

Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa para Sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Islam manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman [11] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [42])

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yaitu orang yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” Maknanya adalah orang yang tidak menyakiti seorang muslim, baik dengan ucapan maupun perbuatannya. Disebutkannya tangan secara khusus dikarenakan sebagian besar perbuatan dilakukan dengannya.” (lihat Syarh Muslim [2/93] cet. Dar Ibnu al-Haistam)

Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Maksud hadits ini adalah bahwa kaum muslimin yang paling utama adalah orang yang selain menunaikan hak-hak Allah ta’ala dengan baik maka dia pun menunaikan hak-hak sesama kaum muslimin dengan baik pula.” (lihat Fath al-Bari [1/69] cet. Dar al-Hadits)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia. Tidak ada di atas muka bumi ini sesuatu yang lebih butuh untuk dipenjara dalam waktu yang lama selain lisan.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir [9/162], disahihkan sanadnya oleh Syaikh Abdullah bin Yusuf al-Judai’ dalam ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 26)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah kami akan dihukum akibat segala yang kami ucapkan?”. Beliau pun menjawab, “Ibumu telah kehilangan engkau wahai Mu’adz bin Jabal! Bukankah yang menjerumuskan umat manusia tersungkur ke dalam Jahannam di atas hidungnya tidak lain adalah karena buah kejahatan lisan mereka?!” (HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir [20/127-128], disahihkan sanadnya oleh Syaikh Abdullah bin Yusuf al-Judai’ dalam ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 27)

al-Laits bin Sa’ad rahimahullah menceritakan: Suatu ketika orang-orang melewati seorang rahib/ahli ibadah. Lantas mereka pun memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka pun mengulanginya dan memanggilnya kembali. Namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, “Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?”. Maka dia pun keluar menemui mereka dan berkata, “Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 32)

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Sekarang ini bukanlah masa untuk banyak berbicara. Ini adalah masa untuk lebih banyak diam dan menetapi rumah.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 37)

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah juga berkata, “Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 38)

Sebagian orang bijak mengatakan dalam syairnya:
Kita mencela masa, padahal aib itu ada dalam diri kita
Tidaklah ada aib di masa kita kecuali kita
Kita mencerca masa, padahal dia tak berdosa
Seandainya masa bicara, niscaya dia lah yang ‘kan mencerca kita
Agama kita adalah pura-pura dan riya’ belaka
Kita kelabui orang-orang yang melihat kita
(lihat ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 41)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan terjadi berbagai fitnah (kekacauan dan permusuhan). Pada saat itu, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Barangsiapa yang menceburkan diri ke dalamnya niscaya dia akan ditelan olehnya. Dan barangsiapa yang mendapatkan tempat perlindungan hendaklah dia berlindung dengannya.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Fitan [7081] dan Muslim dalam Kitab al-Fitan [2886])

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini berisi peringatan keras supaya menjauh dari fitnah dan anjuran untuk tidak turut campur di dalamnya, sedangkan tingkat keburukan yang dialaminya tergantung pada sejauh mana keterkaitan dirinya dengan fitnah itu.” (lihat Fath al-Bari [11/37] cet. Dar al-Hadits)

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Pendapat yang tepat adalah fitnah di sini pada asalnya bermakna ujian/cobaan. Adapun mengingkari kemungkaran adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang mampu melakukannya. Barangsiapa yang membantu pihak yang benar maka dia telah bersikap benar, dan barangsiapa yang membela pihak yang salah maka dia telah keliru.” (lihat Fath al-Bari [11/37] cet. Dar al-Hadits)

Thawus menceritakan: Tatkala terjadi fitnah terhadap ‘Utsman radhiyallahu’anhu, ada seorang lelaki arab yang berkata kepada keluarganya, “Aku telah gila, maka ikatlah diriku”. Maka mereka pun mengikatnya. Ketika fitnah itu telah reda, dia pun berkata kepada mereka, “Lepaskanlah ikatanku. Segala puji bagi Allah yang telah menyembuhkanku dari kegilaan dan telah menyelamatkan diriku dari turut campur dalam fitnah/pembunuhan ‘Utsman.” (HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf [11/450] sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Abdullah bin Yusuf al-Judai’ dalam ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 46)

al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dijadikan dia tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 62). Wallahul musta’an. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Meraih Pahala Sebelum Tidur

Posted by Setyo Wibowo On 19.05 No comments
Alangkah beruntungnya seorang muslim. Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan amalan-amalan yang bernilai ibadah yang bisa dilakukan pada setiap keadaan dalam berbagai aktifitas kesehariannya sehingga sangat banyak kesempatan untuk meraih pahala.
Salah satu diantaranya adalah ketika seorang muslim hendak tidur, Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan banyak amalan ringan sebelum tidur yang apabila amalan tersebut dilakukan akan bernilai pahala di sisi Allah. Berikut akan dibawakan beberapa amalan yang bisa dilakukan oleh seorang muslim ketika hendak tidur.

Menutup Pintu, Memadamkan Api (Lampu), dan Menutup Bejana

Dianjurkan bagi seorang muslim untuk menutup pintu, memadamkan api (lampu), dan menutup bejana yang ada di rumahnya sebelum tidur. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Padamkanlah lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana makanan dan minuman.”(HR Bukhori-Muslim).

Berwudhu

Anjuran untuk berwudhu sebelum tidur dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Al Baro’ bin ‘Azib bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Membersihkan Tempat Tidur

Dianjurkan pula untuk mengibaskan kain pada tempat tidur sebanyak tiga kali sebelum berbaring. Anjuran ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya…”. Di dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa jumlah kibasan yang dianjurkan adalah sebanyak tiga kali (HR. Bukhari dan Muslim).

Berbaring pada Bagian Kanan Badan

Posisi awal yang dianjurkan ketika tidur adalah dengan menumpukan badan pada bagian kanan badan dan dianjurkan pula untuk menjadikan tangan kanan sebagai bantal untuk kepala. Hal ini berdasarkan hadits yang telah dibawakan di atas, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban). Adapun ketika telah terlelap tidak mengapa jika posisi badan berubah.

Membaca Beberapa Surat/Ayat Al Qur’an

Ada beberapa surat/ayat yang dianjurkan untuk dibaca menjelang tidur. Diantaranya:
Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas, ‘Aisyah radhiyallahu‘anha berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari)
Ayat Kursi, hal ini berdasarkan hadits yang diriwiyatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari).
Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqoroh,berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam “Barangsiapa membaca dua ayat tersebut pada malam hari, maka dua ayat tersebut telah mencukupkan-nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Surat Al Kafirun, berdasarkan sebuah hadits yang mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengajarkan sahabat Naufal untuk membaca surat Al Kafirun sebelum tidur (HR Abu Dawud, Ahmad, dan At Tirmidzi).
Surat Al Mulk dan As Sajdah, hal ini berdasarkan penjelasan sahabat Jabir bin Abdillah, beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tidur sampai beliau membaca alif lam mim tanzilus sajdah (surat As Sajdah) dan Tabarokalladzi biyadihil mulk (surat Al Mulk)” (HR Bukhari).

Membaca Beberapa Dzikir dan Do’a

Ada banyak dzikir dan do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk dibaca sebelum tidur. Berikut diantaranya:
“Bismikallahumma amuut wa ahyaa” (HR Bukhari)
“Allahumma qiini ‘adzabaka yauma tab’atsu i’badak” (HR Abu Dawud)
“Bismikarabbii wa dho’tu jambii wa bika arfa’uhu in amsakta nafsii farhamhaa wa in arsaltahaa fahfazhhaa bimaa tahfazha bihi ‘ibaadakasshaalihiin.” (HR Bukhori dan Muslim)

Menjauhi Hal-hal Makruh

Ada beberapa hal yang makruh yang sepatutnya dijauhi untuk dilakukan sebelum tidur. Diantaranya:
Makruh tidur di atas dak terbuka, berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat `Ali bin Syaiban bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya” (HR. Bukhari).
Makruh tidur dalam posisi telungkup (perut sebagai tumpuan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya cara berbaring seperti ini (telungkup) adalah cara berbaringnya penghuni neraka“. (HR Ibnu Majah)
Demikian diantara amalan-amalan ringan yang bisa dilakukan oleh seorang muslim sebelum tidur. Semoga Allah memudahkan kita dalam setiap kebaikan di sisa umur kita. Amiin. [Muhammad Rezki Hr]
Diterjemahkan dan diringkas dari: Kitabul Adab, Bab Al Adab An Naum, Karya Syaikh Fuad ‘Abdul Aziz Asy Syalhub.

Minggu, 03 Juni 2012

Ruh Seorang Kafir

Posted by Setyo Wibowo On 19.49 No comments
Adapun seorang hamba yang kafir, jika ajal sedang menjemputnya menuju alam akhirat, maka turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit yang hitam wajahnya. Mereka membawa kain yang kasar.
Lantas para malaikat itu duduk mengelilinginya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat Maut; dia duduk di dekat kepala orang itu dan dia berkata, “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya!”
Kemudian ruh orang itu bercerai-berai dalam jasadnya, lalu dicabut oleh Malaikat Maut seperti mencabut tusukan daging yang terbuat dari besi, yang dicabut dari bulu domba yang basah. Kemudian ruhnya diambil. Setelah diambil oleh Malaikat Maut, para malaikat lainnya tidak membiarkan ruh itu berada di tangan Malaikat Maut walau sekejap mata pun, hingga mereka meletakkannya di kain yang kasar itu. Lalu keluarlah bau yang lebih busuk daripada bangkai yang ada di muka bumi.
Lantas para malaikat itu membawanya naik ke atas. Setiap mereka melewati sekumpulan malaikat, mereka ditanya, “Siapakah ruh yang busuk ini?” Maka para malaikat pembawa ruh itu menjawab, “Ruh Fulan bin Fulan,” dengan nama panggilan terjeleknya semasa dahulu di dunia.
Mereka meminta agar pintu langit dibukakan bagi ruh orang kafir tersebut. tetapi tidak dibukakan. Kemudian Allah berfirman, “Tulislah catatan amalnya di Sijjin! Di bumi yang paling bawah.” Maka ruh orang itu dilemparkan dengan sekali lemparan.
Lantas ruhnya dikembalikan ke jasadnya dan datanglah dua malaikat kepadanya. Kedua malaikat itu lalu mendudukkannya seraya berkata, “Siapakah Rabbmu?”
Dia menjawab, “Hah … hah … aku tidak tahu.”
Kedua malaikat itu bertanya lagi, “Apa agamamu?”
“Hah … hah … aku tidak tahu,” jawabnya.
“Siapa laki-laki yang telah diutus kepada kalian? Tanya dua malaikat itu.
“Hah … hah … aku tidak tahu,” jawabnya lagi.
Tiba-tiba terdengar seruan dari atas langit, “Hamba-Ku itu telah berdusta! Bentangkanlah hamparan dari api neraka baginya dan bukakanlah baginya satu pintu menuju neraka!”
Maka datang kepadanya angin panas yang berembus dari neraka, dan kuburnya dipersempit hingga tulang rusuknya bercerai-berai.
Lalu datang kepadanya seorang lelaki buruk rupa, berpakaian jelek, dan berbau busuk. Lelaki itu berkata, “Bergembiralah dengan segala sesuatu yang menyusahkanmu! Inilah hari yang dijanjikan kepadamu.”
Lantas mayat orang kafir itu bertanya kepada si lelaki buruk rupa, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang dayang membawa kejelekan.”
Lelaki itu menjawab, “Aku adalah amal jelekmu.”
Mayat orang kafir itu berkata, “Rabbku, janganlah engkau datangkan hari kiamat.” (Al-Jawabul Al-Kafi)
*
Hikmah di balik kisah ini:
  • Adanya azab kubur dan adanya nikmat kubur.
  • Adanya azab kubur maupun nikmat kubur dialami oleh ruh dan jasad orang yang meninggal.
  • Orang mukmin meninggal dengan cara yang mudah. Orang kafir meninggal dengan cara yang sulit dan menyakitkan.
  • Langit terdiri dari tujuh lapis, dan masing-masing lapisnya memiliki pintu yang dijaga oleh para malaikat.
  • Allah berada di atas langit.
  • Malaikat berjumlah sangat banyak; hanya Allah yang mengetahui jumlahnya secara pasti.
  • Malaikat Maut bertugas mencabut nyawa.
  • Ada dua malaikat yang bertugas menanyakan tiga perkara di alam kubur, yaitu Malaikat Al-Munkar dan Malaikat An-Nakir.
  • Di alam kubur, orang mukmin akan ditemani amal shalihnya yang berbentuk seorang lelkai yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, dan harum baunya.
  • Orang kafir di alam kubur akan ditemani amal jeleknya yang berbentuk lelaki buruk rupa, berpakaian jelek, dan berbau busuk.
***
muslimah.or.id

Sumber: Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim Seri-4, karya Ummu Usamah ‘Aliyyah, Ummu Mu’adz Rofi’ah, dkk. Mei 2007. Penerbit Darul Ilmi, Yogyakarta.

Ruh Seorang Mukmin

Posted by Setyo Wibowo On 19.42 No comments
Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang ruh orang mukmin yang akan meninggal dunia dan ruh orang kafir yang akan meninggal dunia.
Jika seorang mukmin akan meninggal, malaikat-malaikat turun dari langit kepadanya dengan membawa kain kafan dari surga serta membawa wewangian dari surga. Lantas para malaikat itu duduk di sekeliling orang mukmin yang akan meninggal tadi.
Para malaikat duduk mengelilingi sang mukmin sepanjang mata memandang (saking banyaknya malaikat itu). Menyusul kemudian, datanglah Malaikat Maut duduk di dekat kepala sanga mukmin. Malaikat Maut berkata, “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.”
Dengan demikian, keluarlah jiwa sang mukmin dari jasadnya bagaikan keluarnya tetesan air dari bibir tempat air.
Kemudian Malaikat Maut mengambilnya. Jika Malaikat Maut telah mengambil ruhnya maka para malaikat lainnya tidak membiarkan ruh itu berada di tangan Malaikat Maut sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya.
Lalu mereka meletakkannya ke dalam kafan dan wewangian itu. Ruh itu keluar dengan aroma yang harum seperti minyak misik yang paling wangi di muka bumi. Mereka membawanya naik ke atas. Setiap kali mereka melewati para malaikat, mereka ditanya, “Siapakah ruh yang baik ini?”
Para malaikat yang membawa ruh itu menjawab, “Ini ruh Fulan bin Fulan,” dengan nama panggilan terbaiknya semasa dahulu di dunia.
Hingga mereka sampai ke langit. Mereka minta agar pintu langit dibukakan, maka dibukakanlah bagi mereka lalu diiringi oleh para malaikat dari seluruh penjuru langit hingga ke langit selanjutnya, sampai akhirnya ke langit yang ketujuh.
Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Tulislah catatan amal hamba-Ku di ‘Illiyyin, serta kembalikan ia ke bumi; karena sesungguhnya Aku menciptakan mereka (manusia) dari bumi (tanah), kepadanya juga akan Kukembalikan, dan dari sana akan Kukeluarkan mereka pada waktu yang lain.”
Kemudian ruh orang tersebut dikembalikann lagi ke jasadnya (di bumi). Lalu datang kepadanya dua malaikat.
Kedua malaikat itu mendudukkannya seraya berkata, “Siapakah Rabbmu?”
Orang itu pun menjawab, “Rabbku adalah Allah ‘Azza wa Jalla.”
Kedua malaikat itu bertanya lagi, “Apa agamamu?”
“Agamaku Islam,” jawabnya.
“Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kalian?” tanya dua malaikat itu lagi.
“Dia adalah Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” jawabnya.
Dua malaikat itu berkata, “Darimana kamu tahu?”
“Aku membaca kitab Allah ‘Azza wa Jalla kemudian aku mengimaninya dan membenarkannya,” jawabnya.
Lalu terdengarlah seruan dari atas langit, “Hamba-Ku itu benar. Karenanya, hamparkanlah baginya hamparan dari surga, pakaikanlah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah satu pintu menuju surga baginya.”
Maka terciumlah olehnya angin surga dan aroma wanginya, serta diluaskanlah kuburnya seluas mata memandang. Lalu ia didatangi oleh seorang lelaki yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, dan harum baunya. Lelaki itu berkata, “Bergembiralah dengan segala hal yang menyenangkanmu! Ini adalah hari  yang dahulu dijanjikan kepadamu.”
Kemudian mayat orang mukmin itu berkata, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebajikan.”
“Aku adalah amal shalihmu.”
Lalu mayat orang itu berkata, “Wahai Rabbku, datangkanlah segera hari kiamat …. Wahai Rabbku, datangkanlah segera hari kiamat, sehingga aku dapat kembali kepada keluargaku dan hartaku.” (Al-Jawabul Al-Kafi)
*
Hikmah di balik kisah ini:
  • Adanya azab kubur dan adanya nikmat kubur.
  • Adanya azab kubur maupun nikmat kubur dialami oleh ruh dan jasad orang yang meninggal.
  • Orang mukmin meninggal dengan cara yang mudah. Orang kafir meninggal dengan cara yang sulit dan menyakitkan.
  • Langit terdiri atas tujuh lapis; masing-masing lapisannya memiliki pintu yang dijaga oleh para malaikat.
  • Allah berada di atas langit.
  • Malaikat berjumlah sangat banyak; hanya Allah yang mengetahui jumlahnya secara pasti.
  • Malaikat Maut bertugas mencabut nyawa.
  • Ada dua malaikat yang bertugas menanyakan tiga perkara di alam kubur, yaitu Malaikat Al-Munkar dan Malaikat An-Nakir.
  • Di alam kubur, orang mukmin akan ditemani oleh amal shalihnya yang berbentuk seorang lelaki yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, dan harum baunya.
  • Orang kafir di alam kubur akan ditemani oleh amal jeleknya yang berbentuk lelaki buruk rupa, berpakaian jelek, dan berbau busuk.
***
muslimah.or.id
Sumber: Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim Seri-4, karya Ummu Usamah ‘Aliyyah, Ummu Mu’adz Rofi’ah, dkk. Mei 2007. Penerbit Darul Ilmi, Yogyakarta.

Selasa, 29 Mei 2012

Bukan Sembarang Dzikir

Posted by Setyo Wibowo On 20.43 No comments
Dzikir merupakan salah satu ibadah yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya: akan mendatangkan ketenangan bagi para pelakunya. Sebagaimana ditegaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya,
 “أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”.
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du: 28.
Namun, yang kerap menjadi pertanyaan, sudahkah dzikir yang kita lantunkan mendatangkan ketenangan batin? Jika belum, barangkali dikarenakan kita baru asal berdzikir. Berikut beberapa kriteria dzikir sempurna yang diharapkan akan membuahkan ketentraman hati:1

Jumat, 27 April 2012

Keajaiban Al-Quran Tentang Matematika

Posted by Setyo Wibowo On 21.53 No comments

 Al Quran dilihat dari sisi kandungannya telah banyak ditulis dan diketahui, tetapi keajaiban dilihat dari bagaimana Al Quran ditulis/disusun mungkin belum banyak yang mengetahui. Orang-orang non-muslim khususnya kaum orientalis barat sering menuduh bahwa Al Qur’an adalah buatan Muhammad. Padahal kalau kita baca Al Qur’an ada ayat yang menyatakan tantangan kepada orang-orang kafir khususnya untuk membuat buku/kitab seperti Al Quran dimana hal ini tidak mungkin akan dapat dilakukannya meskipun jin dan manusia bersatu padu membuatnya. Tulisan singkat ini bertujuan untuk menyajikan beberapa keajaiban Al Qur’an dilihat dari segi bagaimana Al Qur’an ditulis, dan sekaligus secara tidak langsung juga untuk menyangkal tuduhan tersebut, dimana

Kamis, 12 April 2012

Menguap Dan Bersin Dalam Islam

Posted by Setyo Wibowo On 20.11 No comments
Kebanyakan dari kita, mungkin beranggapan bahwa ibadah hanyalah sebatas pada shalat, puasa, haji, dan zakat. Padahal ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu ibadah yang telah diremehkan oleh sebagian kaum muslim adalah menjaga adab-adab yang telah diajarkan oleh Islam. Adab-adab tersebut memang terkesan sepele, tetapi jika kita mengamalkannya dengan niat beribadah dan dengan niat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amal tersebut akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala.

Rabu, 11 April 2012

Apakah Orang Mati Dapat Mendengar?

Posted by Setyo Wibowo On 03.44 No comments
Pada sebuah kesempatan, Syaikh Prof.Dr. Abdul Aziz Bin Muhammad Abdul Latief *) ditanya:
Apakah orang mati dapat mendengarkan hal-hal yang terjadi disekitarnya? Ketika seseorang meninggal, apakah ia dapat merasakan apa yang ada disekitarnya, seperti keberadaan keluarganya, sebelum ia dimandikan, dikafankan lalu dikubur? Lalu apakah mayat tersebut dapat mendengarkan suara-suara disekelilingnya? Karena terdapat hadits yang menyatakan bahwa mayat dapat mendengar hentakan sandal orang yang menguburkannya.
Syaikh Dr. Abdul Aziz Bin Muhammad Abdul Latief menjawab:

Memahami Surat Al-Falaq

Posted by Setyo Wibowo On 03.39 No comments
Surat al-Falaq terdiri dari lima ayat dan tergolong makkiyyah (diturunkan sebelum hijrah). Bersama surat an-Nas, ia disebut al-Mu’awwidzatain. Disebut demikian karena keduanya mengandung ta’widz (perlindungan).  Keduanya termasuk surat yang utama dalam Al-Qur’an. Keutamaan surat al-Falaq selalu disebut bersamaan dengan surat an-Nas.

Keutamaan al-Mu’awwidzatain

Dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhushallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa Rasulullah
(( أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ؟))
“Tahukah engkau ayat-ayat yang telah diturunkan malam ini, tidak pernah ada yang menyerupainya sama sekali? Kemudian beliau mengatakan:

Jumat, 06 April 2012

Hadits terakhir yang menyebutkan keutamaan membaca surat Al-Kahfi pada hari atau malam Jum’at diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri RA.
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, niscaya aka nada cahaya terang yang menyinari antara dirinya dengan baitul ‘atiq (Ka’bah).”
Hadits ini hanya memiliki satu sanad, yaitu Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkannya kepada Qais bin Abbad, lalu Qais bin Abbad meriwayatkannya kepada Abu Mijlaz, lalu Abu Mijlaz meriwayatkannya kepada Abu Hasyim Ar-Rumani.
Inilah satu-satunya jalur sanad hadits ini. Lalu Abu Hasyim Ar-Rumani meriwayatkan hadits ini kepada tiga orang perawi: Husyaim bin Basyir, Syu’bah bin Hajjaj, dan Sufyan ats-Tsauri. Dari Abu Hasyim Ar-Rumani terjadilah perbedaan matan (teks bunyi) hadits. Dan dari tiga perawi setelahnya tersebut terjadilah perbedaan matan dan sanad (jalur periwayatan) hadits ini. Dan dari sinilah terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang keshahihan dan kedha’ifan hadits ini.

Selasa, 20 Maret 2012

"Allahuakbar", Muslim Of Tunisia

Posted by Setyo Wibowo On 22.13 No comments


Subhanallah, ternyata Islam itu benar-benar Agama yang menakjubkan,, kutuggu komentarmu friend..!

Senin, 19 Maret 2012

Ganjaran melalaikan sholat

Posted by Setyo Wibowo On 21.11 No comments

Barang siapa melalaikan sholat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SWT.


Ketika Malaikat Jibril turun dan berjumpa dengan Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima puasa, zakat, haji, sedekah, dan amal saleh seseorang yang meninggalkan sholat. Ia dilaknat di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran. Demi Allah, yang telah mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang meninggalkan sholat, setiap hari mendapat 1.000 laknat dan murka. Para malaikat melaknatnya dari langit pertama hingga ketujuh.

            Malaikat adalah salah satu makhluk Allah yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi-Nya. Ia merupakan makhluk yang selalu menta’ati Allah dalam keadaan apapun, sebagaimana firman Allah dalam surah at-Tahrim ayat 6:


“Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Di dalam al-Qur’an ada satu ayat yang sangat terkenal sekali bahkan selalu dan sering kita mendengarnya, yakni surah al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bersholawat untuk Nabi, Hai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Kamis, 01 Maret 2012

Ternyata Hari Jum’at itu Istimewa

Posted by Setyo Wibowo On 19.26 No comments

Sahabat muslim dan muslimat, kabar gembira untuk kita semua bahwa ternyata kita mempunyai hari yang istimewa dalam deretan 7 hari yang kita kenal. Hari itu adalah hari jum’at. Saudariku, hari jum’at memang istimewa namun tidak selayaknya kita berlebihan dalam menanggapinya. Dalam artian, kita mengkhususkan dengan ibadah tertentu misalnya puasa tertentu khusus hari Jum’at, tidak boleh pula mengkhususkan bacaan dzikir, do’a dan membaca surat-surat tertentu pada malam dan hari jum’at kecuali yang disyari’atkan.

Senin, 20 Februari 2012

Keajaiban madu dalam Al Quran

Posted by Setyo Wibowo On 00.15 No comments


Segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT pasti tak ada yang sia-sia. Di antara ciptaan Sang Khalik yang istimewa adalah lebah. Serangga yang satu ini menempati posisi penting dibanding serangga lainnya. Tak heran jika lebah dijadikan salah satu nama surat dalam Alquran.
Surat ke-16 dalam Alquran adalah An Nahl yang berarti lebah. Secara khusus, surat Makkiyah tersebut dinamakan An Nahl atau lebah, karena pada ayat ke-68 terdafat firman Allah SWT yang berbunyi, ”Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah:

Rabu, 15 Februari 2012

“QITMIR ANJING YANG DIBERKAHI”

Posted by Setyo Wibowo On 22.17 No comments


buku
Buku ini ditulis oleh penulis buku terkenal M. Yasin Owadally, berisi tentang 18 kisah-kisah hewan dalam kehidupan dan perjuangan para Nabi dan Rasul AS, di antaranya adalah kisah tentang Qitmir, anjing yang menemani perjuangan 6 orang pemuda dalam mempertahankan keyakinannya.

Manfaat Wudhu Bagi Kesehatan

Posted by Setyo Wibowo On 22.08 No comments
Ibadah wudhu tampaknya sepele dan mudah dilakukan. Karena itu, banyak umat Islam yang memandangnya biasa-biasa saja. Padahal, bila wudhu dikerjakan tidak sempurna, shalatnya pun tidak akan diterima (HR Bukhari No 135 dan Muslim No 224-225).
Kendati sederhana, manfaatnya sangat besar. Itulah yang dibuktikan oleh para ahli kesehatan dunia. Salah satunya adalah Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater sekaligus neurolog berkebangsaan Austria. Ia menemukan sesuatu yang menakjubkan dalam wudhu karena mampu merangsang pusat syaraf dalam tubuh manusia. Karena keselarasan air dengan wudhu dan titik-titik syaraf, kondisi tubuh senantiasa akan sehat.

Manfaat Menutup Aurat

Posted by Setyo Wibowo On 17.22 No comments

Bagi anda yang masih suka membuka-buka aurat di depan umum mungkin anda belum tahu betapa banyak manfaat yang bisa anda dapatkan dengan menutup aurat anda. Menutup aurat yang dilakukan dengan baik dan benar dapat melindungi anda dari berbagai keburukan mulai dari aspek sosial sampai ke aspek kesehatan. Tidak ada salahnya untuk mencoba menutup aurat anda jika keluar rumah untuk merasakan sensasinya.
Menutup aurat yang baik adalah dengan menggunakan pakaian yang tidak memperlihatkan kulit bagian aurat, tidak memperlihatkan betuk tubuh yang menarik bagi lawan jenis, tidak tembus pandang, desainnya tidak menarik perhatian orang lain dan yang tidak kalah penting adalah nyaman digunakan. Untuk laki-laki tutuplah bagian pusar sampai ke lutut. Sedangkan untuk perempuan hanya boleh memperlihatkan wajah dan telapak tangan.
Berikut ini adalah beberapa kegunaan, kelebihan, fungsi, kebaikan, manfaat yang bisa didapatkan dari menutup aurat anda

Selasa, 14 Februari 2012


Allah Ta’ala berfirman tentang Masjid Al-Haram:
وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Siapa saja yang ingin berbuat penyimpangan di dalamnya maka Kami akan merasakan kepadanya siksaan yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
“Shalat di masjidku ini lebih baik daripada 1000 shalat di tempat lain, kecuali di Masjid Al-Haram.” (HR. Muslim no. 1394)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: